Endometritis: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Sobat ASHA, pernahkah Anda mengalami nyeri perut bagian bawah, keputihan yang tidak normal atau demam setelah prosedur medis seperti kuretase atau persalinan? Jika iya, bisa jadi itu adalah tanda dari endometritis atau peradangan pada lapisan dalam rahim. 

 

Endometritis adalah kondisi yang sering tidak disadari namun dapat berdampak serius jika dibiarkan terutama bagi kesehatan reproduksi dan kesuburan wanita. 

 

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap tentang penyebab endometritis, gejala yang perlu diwaspadai, serta langkah pengobatan dan pencegahannya agar Sobat ASHA bisa lebih waspada dan menjaga kesehatan rahim dengan baik.

 

Pengertian Endometritis

Endometritis adalah peradangan pada lapisan endometrium (lapisan terdalam rahim) yang umumnya disebabkan oleh infeksi. Nah, kondisi bisa berasal dari bakteri yang masuk ke dalam rahim melalui prosedur medis seperti persalinan, kuretase atau pemasangan IUD.

 

Tanpa penanganan yang tepat, infeksi dapat menyebar ke organ reproduksi lain dan menimbulkan komplikasi serius.

 

Perbedaan Endometritis dan Endometriosis

Banyak yang menyamakan endometritis dengan endometriosis, padahal keduanya adalah kondisi berbeda. Endometritis disebabkan oleh infeksi dan melibatkan peradangan di dalam rahim. Sementara itu, endometriosis adalah pertumbuhan jaringan endometrium di luar rahim, seperti di ovarium atau saluran tuba yang tidak melibatkan infeksi.

 

Penyebab Infeksi Endometritis

Sobat ASHA, memahami penyebab endometritis sangat penting agar kita bisa lebih waspada dan segera mengambil tindakan saat gejala muncul.

 

Secara umum, endometritis merupakan peradangan pada lapisan dalam rahim yang terjadi akibat infeksi, di mana sumber infeksinya dapat berasal dari berbagai penyebab atau faktor pemicu.

 

1. Infeksi Bakteri

Penyebab utama endometrisis adalah infeksi bakteri yang dapat berpindah dari area vagina atau leher rahim menuju bagian dalam rahim, terutama setelah menjalani prosedur medis yang memungkinkan bakteri masuk ke rongga rahim.

 

 

2. Retrograde Menstruation

Dalam beberapa kasus, aliran darah menstruasi dapat berbalik arah ke saluran tuba, kondisi ini dikenal sebagai retrograde menstruation. Ketika ini terjadi, mikroorganisme bisa ikut terbawa masuk ke rongga rahim dan memicu infeksi lokal.

 

3. Transformasi Sel Embrio

Meskipun tergolong jarang, perubahan abnormal pada sel embrio di awal kehamilan dapat menimbulkan peradangan pada endometrium. Kondisi ini lebih sering terjadi setelah keguguran spontan.

 

4. Prosedur atau Tindakan Bedah

Tindakan medis seperti kuretase, pemasangan IUD, atau biopsi endometrium berisiko menyebabkan infeksi jika alat yang digunakan tidak steril. Kurangnya kebersihan atau prosedur yang tidak dilakukan dengan benar bisa membuka jalan bagi bakteri masuk ke rahim.

 

5. Luka Pasca Keguguran atau Operasi Caesar

Setelah operasi caesar sering kali terdapat sisa jaringan plasenta atau luka di dinding rahim, begitupun sehabis keguguran. Jaringan ini bisa menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan menyebabkan infeksi pada endometrium.

 

6. Penyakit menular seksual (PMS)

Infeksi menular seksual seperti klamidia dan gonore sering menjadi faktor penyebab utama terjadinya endometritis. Infeksi ini sering tidak menunjukkan gejala pada awalnya, namun dapat menyebabkan peradangan serius jika tidak segera diobati.

 

7. Gangguan Sistem Imun Tubuh

Pada sebagian wanita, sistem kekebalan tubuh yang melemah membuat pertahanan alami tubuh tidak mampu melawan infeksi dengan optimal. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya endometritis saat mikroorganisme masuk ke dalam rahim.

 

 

Faktor Risiko Endometritis

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami endometritis antara lain:

 

Pernah Menjalani Prosedur di Area Rahim

Setiap tindakan medis yang melibatkan rongga rahim berpotensi membuka jalur masuk bagi bakteri. Jika tidak dilakukan dengan protokol steril yang ketat, prosedur ini bisa menyebabkan infeksi yang memicu peradangan pada endometrium.

 

Memiliki Riwayat Penyakit Menular Seksual

Berbagai macam Infeksi seperti klamidia hingga gonore adalah salah satu penyebab endometritis. Wanita dengan riwayat PMS lebih rentan mengalami infeksi yang menyebar ke rahim jika tidak ditangani secara tuntas.

 

Menjalani Prosedur Bedah di Area Panggul

Operasi pada organ reproduksi atau di sekitar panggul dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme dan meningkatkan risiko infeksi pasca bedah, yang pada akhirnya bisa menyebabkan endometritis.

 

Sistem Kekebalan Tubuh Lemah

Kondisi seperti anemia kronis, penyakit autoimun atau stres berkepanjangan bisa menurunkan daya tahan tubuh. Ketika sistem imun tidak optimal, tubuh lebih sulit melawan bakteri yang masuk ke rahim.

 

Riwayat Keguguran atau Kehamilan Ektopik

Setelah keguguran, sering kali masih ada sisa jaringan dalam rahim yang menjadi tempat berkembangnya bakteri. Kehamilan ektopik yang memerlukan tindakan medis juga dapat meningkatkan risiko infeksi bila tidak ditangani secara hati-hati.

 

Gejala Umum Endometritis

Tingkat keparahan gejala endometritis dapat berbeda-beda, tergantung pada jenis infeksi yang terjadi bersifat akut atau kronis. Berikut  adalah gejala umum endometritis:

 

 

Jenis-jenis Endometritis: Akut vs Kronis

Secara umum, endometritis dibagi menjadi dua jenis, yaitu akut dan kronis. Masing-masing memiliki karakteristik dan tingkat keparahan berbeda.

 

Endometritis Akut

Penyakit Endometrisis akut terjadi setelah persalinan, kuretase, atau keguguran. Gejalanya cepat muncul dan cukup jelas, seperti demam tinggi, nyeri panggul hebat, dan keluarnya cairan abnormal dari vagina.

 

Endometritis Kronis

Sementara itu, Endometritis yang masih kronis biasanya berkembang perlahan dan sering kali tanpa gejala mencolok. Kondisi ini dapat ditemukan secara tidak sengaja saat evaluasi infertilitas atau keguguran berulang. 

 

Komplikasi yang Mungkin Terjadi Akibat Endometritis

Jika tidak ditangani dengan tepat, endometritis dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius yang berdampak jangka panjang terhadap kesehatan reproduksi. 

 

1. Infertilitas atau Gangguan Kesuburan

Ketika endometritis tidak ditangani dengan tepat, peradangan yang terjadi di lapisan endometrium dapat menyebabkan kerusakan jaringan rahim yang berperan penting dalam proses reproduksi. 

 

2. Penyebaran Infeksi ke Organ Lain

Infeksi yang bermula di rahim dapat menyebar ke struktur reproduksi lain seperti saluran tuba dan ovarium. Jika ini terjadi, Sobat ASHA berisiko mengalami infeksi pada organ reproduksi bagian atas.

 

3. Nyeri Panggul Kronis

Endometritis yang tidak tertangani dapat memicu nyeri panggul kronis, yaitu rasa sakit terus-menerus atau berulang di bagian bawah perut yang berlangsung lebih dari 6 bulan.

 

4. Risiko Kelahiran Prematur (Pada Ibu Hamil)

Bagi wanita hamil, endometritis dapat memicu respon inflamasi yang mempercepat kontraksi rahim dan melemahkan kantung ketuban, sehingga meningkatkan risiko kelahiran prematur atau pecah ketuban dini.

 

Studi Terkait Endometriosis

Studi menunjukkan bahwa endometritis kronis dapat ditemukan pada sekitar 10% wanita dengan infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya (Cicinelli et al., 2015). Kondisi ini sering terlewatkan karena minim gejala, namun respons terhadap antibiotik menunjukkan perbaikan fertilitas pada sebagian besar kasus.

 

Diagnosis Medis Endometritis

Untuk memastikan diagnosis endometritis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan medis yang bertujuan mengevaluasi gejala, menemukan penyebab, dan menentukan tingkat keparahan infeksi.

 

Pemeriksaan fisik oleh dokter kandungan

Dalam pemeriksaan ini, dokter akan menilai kondisi organ reproduksi secara umum, termasuk adanya nyeri tekan di perut bagian bawah, pembesaran rahim, atau keluarnya cairan abnormal dari serviks. 

 

Tes laboratorium (darah, urine, kultur serviks)

Setelah pemeriksaan fisik, dokter biasanya akan merekomendasikan tes darah dan urin guna mendeteksi tanda-tanda infeksi sistemik, seperti peningkatan jumlah sel darah putih (leukositosis) atau C-reactive protein (CRP) yang tinggi. 

 

USG transvaginal untuk melihat ketebalan lapisan rahim

Ultrasonografi (USG) transvaginal merupakan alat bantu diagnostik non-invasif yang sangat berguna untuk memvisualisasikan kondisi organ reproduksi bagian dalam, khususnya lapisan endometrium. 

 

Biopsi endometrium (jika dicurigai kronis)

Untuk kasus yang mencurigakan sebagai endometritis kronis, diperlukan prosedur yang lebih spesifik yaitu biopsi endometrium. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sedikit sampel jaringan dari lapisan rahim menggunakan alat khusus. 

 

Terapi dan Pengobatan yang Tersedia

Pengobatan endometritis umumnya disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan infeksi yang dialami. Berikut adalah beberapa terapi dan pengobatan yang bisa dilakukan:

 

Antibiotik sebagai Lini Pertama

Pengobatan utama adalah antibiotik spektrum luas, seperti doksisiklin atau metronidazol, yang efektif melawan bakteri penyebab endometritis.

 

Perawatan Tambahan Jika Perlu

Jika infeksi berat atau terjadi komplikasi, mungkin diperlukan rawat inap dan pemberian antibiotik intravena. Dalam beberapa kasus, prosedur seperti kuretase diperlukan untuk membersihkan jaringan rahim.

 

Pengobatan Endometritis Kronis

Biasanya melibatkan antibiotik jangka lebih panjang. Pemantauan ketat dan pemeriksaan ulang sangat penting untuk memastikan infeksi benar-benar sembuh.

 

Cara Mencegah Endometritis

 

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun beberapa kasus endometritis dapat menunjukkan gejala ringan, Sobat ASHA tetap perlu waspada. Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami mengalami beberapa keluhan dibawah ini:

 

FAQ Seputar Endometritis

Apakah endometritis bisa sembuh total?

Ya, dengan pengobatan yang tepat dan cepat, sebagian besar kasus endometriosis dapat sembuh total.

 

Apakah endometritis mempengaruhi kesuburan?

Bisa, terutama jika tidak ditangani hingga menyebabkan peradangan kronis atau kerusakan pada rahim dan saluran tuba.

 

Berapa lama pengobatan endometritis berlangsung?

Untuk kasus akut, pengobatan biasanya berlangsung 10–14 hari. Pada kasus kronis, bisa membutuhkan terapi lebih lama dan pemantauan berulang.

 

Apakah endometritis menular?

Endometritis sendiri tidak menular, tetapi infeksi penyebabnya, seperti PMS bisa menular melalui hubungan seksual.

 

Apakah endometritis bisa kambuh lagi?

Ya, terutama jika penyebab awal tidak diatasi secara menyeluruh atau jika Sobat ASHA terpapar faktor risiko kembali.

 

Ditinjau Oleh:

Dr. dr. Hendra Surya Ratsmawan, SpOG

 

Sumber Referensi:

  1. StatPearls (NCBI Bookshelf). (2023). Endometritis. Diakses 2025.

  2. Cleveland Clinic. (2022). Endometritis. Diakses 2025.

  3. Verywell Health. (n.d.). What Is Endometritis? Diakses 2025.

  4. PubMed (via National Library of Medicine). (2015). Postpartum endometritis and endometritis definition study [artikel]. Diakses 2025.

pendaftaran konsultas

Isi form dengan informasi paling sesuai dengan anda!

Pilih dokter untuk Reservasi*
Nama Lengkap*
Tanggal Renacana Kunjungan (DD/MM/YYYY)*

BUAT JANJI TEMU

Isi form dengan informasi paling sesuai dengan anda!

Pilih Waktu Reservasi*
No Telp*
Nama Lengkap*
Jenis Kelamin*

BUAT JANJI TEMU

Isi form dengan informasi paling sesuai dengan anda!

Pilih dokter untuk Reservasi*
Nama Lengkap*
Tanggal Renacana Kunjungan (DD/MM/YYYY)*