Sebagai wanita, mengetahui gejala kanker serviks adalah cara penting untuk menjaga diri sendiri. Di zaman modern seperti sekarang, peluang wanita untuk terkena memang lumayan besar. Apalagi dengan pengaruh trend media sosial yang menormalisasi gaya hidup YOLO (You Only Live Once), membuat banyak wanita tidak memperhatikan pola makan, asal jajan sembarangan serta jarang berolahraga.Â
Yuk kita membahas lebih mendalam soal kanker serviks, bagaimana penanganannya dan apa saja pantangan yang tidak boleh dilakukan penderita. Simak penjelasannya di bawah ini.Â
Pengertian Kanker Serviks
Kanker serviks merupakan kanker yang penyebab utamanya adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV), virus yang menular lewat hubungan seksual. Sayangnya, kanker ini sering tanpa gejala pada awalnya, jadi pencegahan perlu dilakukan sejak dini.Â
Untungnya, kehadiran vaksinasi HPV menjadi solusi modern bagi perempuan yang ingin mencegah kanker serviks.
Yuk, kenali pentingnya vaksin ini untuk masa depan kesehatan wanita!
Gejala Kanker Serviks
Beberapa ciri berikut ini bisa jadi merupakan gejala kanker serviks.Â
- Perdarahan tidak normal
Penderita kanker serviks dapat mengalami pendarahan tidak wajar setelah berhubungan seksual atau setelah menopause. Segera datangi dokter kandungan apabila Anda mengalami salah satu gejala ini.Â
- Keputihan yang tidak biasa
Pasien kanker serviks seringkali dapat mengalami keputihan dengan bau tidak sedap, berwarna coklat, atau bercampur darah.
- Nyeri panggulÂ
Rasa sakit atau tekanan di daerah panggul tanpa sebab yang jelas bisa menjadi gejala kanker serviks stadium lanjut.
- Nyeri saat berhubungan seksual.
Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia) dapat terjadi karena pertumbuhan tumor di jaringan serviks.
- Penurunan berat badan drastis
Penurunan berat badan pada penderita kanker serviks tidak disebabkan oleh olahraga atau perubahan pola makan.Â
- Kelelahan ekstrim dan kehilangan nafsu makan.
Kelelahan yang berlebihan dan kehilangan nafsu makan adalah gejala umum pada kanker serviks stadium lanjut.
- Rasa sakit tak tertahankan saat buang air kecil atau besar.
Rasa sakit saat buang air kecil atau besar dapat terjadi jika kanker menyebar ke organ-organ sekitarnya.
Penyebab Utama HPV
Berikut ini adalah beberapa penyebab utama HPV:
- Aktivitas seksual di usia muda.
Memulai aktivitas seksual pada usia muda meningkatkan risiko infeksi HPV karena serviks yang belum matang lebih rentan terhadap infeksi.
- Berganti-ganti pasangan seksual.
Bisa dibilang, semakin banyak partner seksual dapat memperbesar kemungkinan tertular infeksi HPV.
- Sistem imun lemahÂ
Sistem imun yang lemah, misalnya pada penderita HIV atau pengguna obat penekan imun, juga meningkatkan risiko infeksi HPV yang menetap. Imun yang kurang kuat tidak bisa melawan virus, membuat tubuh semakin berpotensi terkena kanker serviks.Â
- Merokok.
Zat kimia dalam rokok berupa karsinogen dapat merusak DNA sel, terutama di dalam rahim. Lebih lanjut, kebiasaan ini dapat melemahkan daya tahan tubuh sehingga resiko kanker serviks ikut naik.
- Kurangnya asupan gizi yang baik.
Diet asal-asalan tanpa memperhatikan asupan gizi justru dapat meningkatkan resiko kanker serviks. Tetaplah konsumsi buah, sayuran dan berbagai jenis daging untuk memperkuat imun yang bisa melawan virus dan mencegah perkembangan sel-sel kanker.Â
- Tidak melakukan skrining serviks secara rutin.
Jika tidak rutin tes Pap smear atau HPV, perubahan sel serviks bisa tidak terdeteksi. Lama kelamaan, sel ini dapat berubah menjadi kanker.Â
Faktor Risiko Kanker Serviks
1. Tidak melakukan vaksinasi HPVÂ
Tidak mendapat vaksin HPV bisa meningkatkan risiko terkena HPV tipe berbahaya penyebab kanker tersebut.
2. Jarang melakukan tes pap smear atau IVA.
Pastikan untuk melakukan skrining serviks secara rutin supaya pengobatan dapat dilakukan lebih awal.
Â
3. Riwayat keluarga dengan kanker serviks.
Memiliki keluarga dengan riwayat kanker serviks bisa membuat risiko terkena penyakit ini lebih besar.
4. Penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang.
Resiko kanker serviks dapat meningkat lewat konsumsi pil KB selama beberapa tahun.Â
5. Kondisi imunokompromais
Kondisi imun lemah seperti dapat meningkatkan risiko kanker serviks, misalkan pada penderita HIV/AIDS.Â
6. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.
Kurangnya pemahaman tentang pentingnya skrining dan vaksinasi HPV dapat meningkatkan risiko kanker serviks.
Perkembangan Kanker Serviks
Ini dia beberapa perkembangan kanker serviks mulai dari stadium rendah ke stadium tinggi.
- Stadium 0: Sel-sel abnormal ditemukan di lapisan paling luar serviks dan belum menyebar ke jaringan di bawahnya.​
- Stadium 1: Kanker belum menyebar ke jaringan sekitar sebab masih di serviks.
- Stadium 2: Kanker telah menyebar ke jaringan di sekitar rahim atau luar serviks
- Stadium 3: Kanker telah menyebar ke sepertiga bawah vagina.
- Stadium 4: Kanker telah menyebar ke kandung kemih atau hati. Ini adalah stadium paling lanjut dan memerlukan penanganan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Penanganan Kanker Serviks
Beberapa langkah berikut dapat dilakukan untuk menanganinya.
1. Operasi
- Konisasi: Prosedur ini dilakukan dengan cara mengangkat bagian kecil berbentuk kerucut dari leher rahim yang mengandung sel abnormal.
- Histerektomi: Operasi pengangkatan rahim ini cocok untuk kanker serviks stadium awal atau jika pasien tidak berencana hamil lagi di masa depan.
- Radikal histerektomi: Prosedur ini dilakukan dengan cara mengangkat rahim, jaringan di sekitarnya, bagian atas vagina, dan kelenjar getah bening.Â
2. Radioterapi
Menggunakan Radioterapi seperti sinar-X dapat dilakukan untuk membunuh sel kanker. Tentunya metode ini membutuhkan biaya agak mahal.Â
3. Kemoterapi
Kemoterapi diberikan dengan obat anti kanker untuk menghancurkan sel kanker, umumnya lewat infus.Â
4. Terapi Target & Imunoterapi
Terapi target menyerang molekul spesifik pada sel kanker, sedangkan imunoterapi membantu sistem kekebalan tubuh melawan kanker dengan lebih efektif.
Pentingnya Vaksin HPV untuk Pencegahan
Vaksin HPV membantu mencegah infeksi HPV berisiko tinggi penyebab kanker serviks. Secara biaya vaksinasi ini tentu jauh lebih murah dibanding pengobatan kanker.
Kapan Vaksin Diberikan?
- Usia ideal: Usia 9–14 tahun atau sebelum aktif seksual. Efektivitas vaksin paling tinggi bila diberikan sebelum terpapar virus.
- Usia 15–26 tahun: Vaksin tetap efektif, namun efektivitas sedikit menurun jika sudah aktif secara seksual. Konsultasikan dengan dokter sebelum vaksinasi.
- Usia >26 tahun: Masih bisa mendapat vaksin setelah konsultasi dokter. Efektivitas tergantung pada riwayat infeksi HPV dan status kekebalan tubuh.
Jenis Vaksin HPV
- Bivalent (HPV 16 dan 18)Â
Melindungi dari dua tipe HPV penyebab utama kanker servik. Cocok untuk program vaksinasi dasar.
- Quadrivalent (HPV 6, 11, 16, dan 18)Â
Melindungi dari dua tipe kanker (16, 18) dan dua tipe penyebab kutil kelamin (6, 11).
- NonavalentÂ
Melindungi dari sembilan tipe HPV, termasuk 7 tipe penyebab kanker servik. Memberikan perlindungan paling luas.
Dosis
- Usia <15 tahun: Dua dosis dengan jarak minimal 6 bulan antar suntikan. Efektivitas tinggi bila dimulai sejak dini.
- Usia ≥15 tahun: Tiga dosis dalam enam bulan. Jadwal: 0 bulan, 1–2 bulan, dan 6 bulan.
Efek Samping Ringan
- Nyeri di lokasi suntikan
Reaksi umum setelah vaksinasi, biasanya ringan dan hilang dalam satu atau dua hari.
- Demam ringan
Beberapa orang mengalami demam ringan sebagai respons imun tubuh terhadap vaksin.
- Sakit kepala
Sakit kepala ringan bisa terjadi, tetapi tidak memerlukan penanganan khusus dan akan hilang sendiri.
Tips Menjaga Kesehatan Serviks
- Lakukan vaksinasi HPV sejak dini: Vaksinasi sebelum terpapar virus HPV memberi perlindungan maksimal terhadap kanker serviks di masa depan.
- Skrining rutin: Lakukan Pap smear dan/atau tes HPV secara berkala, terutama bagi wanita usia 21 tahun ke atas atau yang sudah aktif secara seksual.
- Gunakan kondom: Mengurangi risiko penularan HPV dan infeksi menular seksual lainnya yang dapat memicu kanker serviks.
- Hindari merokok:Rokok melemahkan sistem kekebalan tubuh dan mempercepat perkembangan sel abnormal di serviks.
- Pertahankan gaya hidup sehat: Konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, dan cukup istirahat untuk mendukung kekebalan tubuh.
- Hindari berganti-ganti pasangan seksual: Risiko tertular HPV meningkat dengan jumlah pasangan seksual yang berganti-ganti.
- Konsultasi dengan dokter kandungan secara rutin: Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi perubahan dini pada serviks sebelum berkembang menjadi kanker.
Konsultasi Dokter di ASHA IVF Surabaya
Lindungi kesehatan reproduksi Anda bersama ASHA IVF Surabaya. Kami hadir dengan layanan lengkap dan terpercaya untuk membantu Anda menjaga serta merencanakan masa depan kesehatan Anda, mulai dari pencegahan hingga pendampingan pasca pengobatan.
ASHA IVF menyediakan pemeriksaan menyeluruh oleh dokter spesialis ginekologi untuk membantu Anda memahami kondisi kesehatan serviks secara mendalam dan mengambil langkah pencegahan yang tepat sejak dini.
Mendukung Anda yang merupakan penyintas kanker servik untuk tetap memiliki harapan menjalani kehamilan. Melalui program kehamilan pasca pengobatan, kami hadir dengan pendekatan yang aman, profesional, dan penuh empati.
Jangan tunda kesehatan Anda. Langkah kecil hari ini bisa menjadi perlindungan besar di masa depan. Hubungi kami sekarang juga untuk jadwal konsultasi dan informasi lebih lanjut. Tim ASHA IVF Surabaya siap membantu Anda melangkah menuju hidup yang lebih sehat dan bermakna.
Ditinjau Oleh: dr. Meliana Jayasaputra, SpOG
Sumber Referensi:
- Sahasrabuddhe, V. V., Parham, G. P., & Mwanahamuntu, M. H. (2019). Cervical cancer prevention in low- and middle-income countries: Feasible, affordable, essential. Cancer Prevention Research, 12(9), 609–612. Diakses pada 2025.
- Health.com. (2024). Cervical Cancer: Overview. direview oleh tim medis Health.com. Diakses pada 2025.
- Mayo Clinic. (n.d.). Cervical Cancer: Symptoms and Causes. ditinjau oleh tim medis Mayo Clinic. Diakses pada 2025.
- Cleveland Clinic. (n.d.). Cervical Cancer. ditinjau oleh tim medis Cleveland Clinic. Diakses pada 2025.
- Arbyn, M., Weiderpass, E., Bruni, L., et al. (2020). Estimates of incidence and mortality of cervical cancer in 2018: A worldwide analysis. The Lancet Global Health, 8(2), e191–e203. Diakses pada 2025.
