Mom & Dads, tekanan terhadap pasangan yang belum memiliki anak di Indonesia sering kali datang dari lingkungan terdekat, terutama orang tua atau mertua yang dengan mudah menyalahkan pihak wanita.
Saat kehamilan tak kunjung terjadi, istri kerap menjadi sasaran tuduhan, seolah-olah masalah kesuburan sepenuhnya ada di pihaknya. Padahal, fakta medis menunjukkan bahwa sekitar 40–50% kasus infertilitas disebabkan oleh faktor kesuburan pria.
Sayangnya, masih banyak mitos seputar kesuburan yang berkembang di masyarakat, mulai dari anggapan soal usia, gaya hidup, hingga hal-hal yang belum terbukti secara ilmiah. Dalam artikel ini, Mom & Dads akan diajak untuk mengenali delapan mitos umum tentang kesuburan pria, lengkap dengan penjelasan dari sudut pandang medis agar kita bisa memahami fakta yang sebenarnya.
Berbagai Mitos Tentang Kesuburan Pria
Kesuburan pria merupakan topik yang sering kali diselimuti banyak mitos. Banyak suami merasa tidak perlu memeriksakan diri karena menganggap masalah kesuburan hanya ada pada istri. Akhirnya, akibat rasa gengsi memeriksakan diri ini membuat banyak sekali perempuan yang jadi korban karena dituduh sebagai biang masalah dalam usaha memiliki keturunan.
Mengetahui mitos-mitos seputar kesuburan pria sebenarnya sangat penting agar Mom & Dads tidak terjebak dalam informasi yang salah dan bisa mengambil keputusan yang tepat jika sedang merencanakan kehamilan.
1. Usia Tidak Memengaruhi Kesuburan Pria
Banyak yang percaya bahwa pria tetap subur hingga usia lanjut. Faktanya, kualutas dan kuantitas sperma yang dimiliki pria memang akan menurun seiring bertambahnya usia dan berbagai faktor gaya hidup lainnya.
Menurut Mayo Clinic, pria di atas usia 40 tahun cenderung memiliki sperma dengan motilitas dan morfologi yang lebih rendah. Kondisi ini bisa memengaruhi peluang keberhasilan pembuahan serta meningkatkan risiko gangguan genetik pada janin.
2. Celana Ketat Menyebabkan Kemandulan Pada Pria
Mitos penggunaan celana ketat yang membuat mandul memang cukup populer di Indonesia, meskipun belum sepenuhnya didukung oleh bukti kuat. Penggunaan celana ketat memang dapat meningkatkan suhu skrotum dan disinyalir bisa membuat sperma menurun secara kualitas.
Faktanya, peningkatan suhu scrotal harus berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang agar berdampak signifikan. Oleh karena itu, mengenakan celana ketat sesekali tidak akan serta-merta menyebabkan infertilitas.
3. Terlalu Sering Ejakulasi Menurunkan Kualitas Sperma
Mom & Dads, seberapa sering ejakulasi memang memengaruhi penurunan jumlah sperma. Akan tetapi, ejakulasi yang terlalu jarang pun bisa menyebabkan sperma menjadi lebih tua dan kurang aktif. Idealnya, untuk tujuan kehamilan, ejakulasi 2–3 kali per minggu dianggap baik oleh banyak dokter.
Oleh karena itu, Mom & Dads sebaiknya membuat jadwal berhubungan badan agar ritme ejakulasi bisa disesuaikan. Catat tanggal kapan sebaiknya hubungan badan dilakukan agar pembuahan berhasil dilakukan.
4. Masalah Kesuburan Selalu Berasal dari Wanita
Mitos terkait kesuburan memang paling sering merugikan perempuan. Faktanya, seperti disebutkan sebelumnya, penyebab infertilitas bisa berasal dari pihak pria, wanita, atau keduanya. Dalam banyak kasus, pria yang mengalami gangguan pada kualitas atau kuantitas sperma menyumbang 50% masalah infertilitas dalam kehidupan rumah tangga.
Mom & Dads perlu sama-sama menyadari bahwa pemeriksaan kesuburan sebaiknya dilakukan oleh kedua pasangan. Tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain, gunakan kepala dingin dan selalu bekerja sama untuk mencapai tujuan memiliki keturunan.
5. Merokok atau Minum Alkohol Tidak Terlalu Memengaruhi Kesuburan
Punya kebiasaan merokok atau mengkonsumsi alkohol? Ketahuilah bahwa dua kebiasaan ini justru memiliki dampak negatif yang signifikan pada kesuburan pria. Rokok mengandung zat berbahaya seperti nikotin dan karbon monoksida bisa merusak DNA sperma dan menurunkan motilitas.
Begitu juga dengan konsumsi alkohol, yang dalam jangka panjang dapat memengaruhi produksi hormon testosteron. Oleh karena itu, gaya hidup sehat sangat dianjurkan jika Mom & Dads sedang merencanakan kehamilan.
6. Suplemen atau Makanan Tertentu Bisa Meningkatkan Kesuburan
Suplemen peningkat kesuburan yang beredar di pasaran sebenarnya tidak sesuai dengan klaim yang diiklankan. Meski beberapa nutrisi seperti zinc, vitamin C, E, dan selenium memang penting bagi kesehatan sperma, mengkonsumsi suplemen tanpa indikasi medis bukanlah solusi utama.
Sebelum mengonsumsi suplemen, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui kebutuhan tubuh dan memastikan tidak ada riwayat medis pada tubuh yang kontra dengan kandungan suplemen.
7. Pria yang Subur Pasti Memiliki Dorongan Seks Tinggi
Dorongan seksual atau libido dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti hormon, stres, dan kondisi psikologis. Seorang pria bisa memiliki libido tinggi tetapi mengalami gangguan kualitas sperma, begitu juga sebaliknya.
Artinya, dorongan seks bukan indikator pasti dari kesuburan pria. Pria yang jarang bertemu istri tetapi memiliki kualitas sperma yang baik masih sangat mungkin memiliki keturunan. Sebaliknya, pria yang sering berhubungan badan tetapi memiliki kualitas sperma yang buruk karena kebiasaan merokok juga bisa jadi sulit memiliki anak.
Untuk itu, satu-satunya cara untuk mengetahuinya secara pasti adalah dengan melakukan pemeriksaan analisis sperma di klinik fertilitas.
8. Harus Menunggu Setahun untuk Periksa Kesuburan
Banyak pasangan mengira bahwa harus menunggu hingga satu tahun sebelum memeriksakan diri terkait masalah keturunan. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Secara medis, memang pasangan dikatakan infertil bila sudah berhubungan seksual secara teratur tanpa alat kontrasepsi selama 12 bulan namun belum juga hamil.
Namun, ada beberapa kondisi yang membuat pasangan disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan, bahkan meski baru enam bulan mencoba. Misalnya, jika ada riwayat masalah kesehatan reproduksi seperti:
Testis tidak turun (kriptorkismus)
Pernah menjalani operasi pada testis atau saluran reproduksi
Riwayat infeksi pada organ reproduksi (misalnya infeksi saluran kemih atau epididimitis)
Menstruasi tidak teratur atau sangat jarang pada istri
Usia istri sudah di atas 35 tahun
Khusus untuk perempuan berusia di atas 35 tahun, evaluasi kesuburan sebaiknya tidak ditunda. Ini karena kualitas dan jumlah sel telur secara alami akan menurun seiring bertambahnya usia, sehingga waktu menjadi faktor penting dalam perencanaan kehamilan.
Jika Anda ingin memeriksakan kualitas sel telur saat ini, ASHA IVF menyediakan layanan pemeriksaan kesuburan pria dan wanita secara lengkap, termasuk analisis sperma dengan hasil akurat dan penanganan dari dokter spesialis andrologi dan fertilitas.
Kami memberikan layanan yang tak hanya mengedepankan kecanggihan teknologi, tetapi juga pendekatan personal agar memahami kebutuhan pasien secara lebih akurat.
Kesimpulan
Kesuburan pria bukanlah topik yang bisa dianggap remeh saat Mom & Dads sedang merencanakan kehamilan. Mengetahui fakta yang benar dibandingkan percaya akan mitos adalah salah satu langkah terbaik yang akan membantu Anda dan pasangan mewujudka kehamilan.
Terlalu percaya pada mitos yang beredar justru membuat informasi menjadi bias dan menunda penanganan yang tepat. Jika Mom & Dads sedang merencanakan kehadiran buah hati, tak ada salahnya untuk segera berkonsultasi dengan tim medis berpengalaman.
Di ASHA IVF, kami menyediakan layanan komprehensif untuk pria, mulai dari pemeriksaan hormon, analisis sperma, hingga program fertilitas dengan teknologi Time-Lapse Embryo Monitoring dan Frozen Embryo Transfer (FET) yang terbukti meningkatkan peluang keberhasilan.
Dokter-dokter ahli kami sudah terpercaya di bidangnya dan berpengalaman puluhan tahun menangani masalah infertilitas di Indonesia. Booking jadwal konsultasi sekarang, wujudkan impian mulia memiliki keturunan.
Ditinjau Oleh:
dr. Lunardhi Susanto, M. Kes., SpAnd
Sumber Referensi:
Cleveland Clinic. (2025). Male infertility. Diakses 2025.
Mayo Clinic. (2025). Fertility: Ovulation, conception, and getting pregnant. Diakses 2025.
WebMD. (2025). Male fertility myths. Diakses 2025.
World Health Organization (WHO). (2025). Infertility. Diakses 2025.
